PUISI MBELING : SEJARAH, PANDANGAN, DAN KUMPULAN PUISI MBELING

Puisi Mbeling, diartikan sebagai bentuk-bentuk puisi yang tidak mengikuti aturan. Yang dimaksud aturan puisi di sini adalah ketentuan-ketentuan yang umumnya berlaku dalam penciptaan suatu puisi (Suharianto 2005: 49-54).

 Awal Kemunculan Puisi Mbeling

Puisi mbeling semula merupakan sebuah nama ruangan puisi dalam sebuah majalah pada tahun 1972 yaitu majalah Aktuil. Nama rubrik puisi ini hanya berlaku tahun 1972—1973. Pada tahun 1973 ruang Puisi Mbeling dalam majalah Aktuil ini berubah menjadi Puisi Lugu dan pada tahun 1975 berubah lagi menjadi Puisi Awam. Pada perkembangan selanjutnya nama Puisi Mbeling lah yang kemudian menjadi terkenal dan menjadi nama puisi Indonesia populer sekarang ini.

Kelahiran puisi mbeling pada mulanya didorong oleh ketidakseimbangan hasrat dan kreativitas anak muda dalam menulis puisi dengan jumlah majalah sastra yang tersedia. Majalah sastra yang pada waktu itu hanya ada tiga tentu saja memiliki keterbatasan dalam menampung karya-karya sastra anak muda pada waktu itu. Di lain pihak, banyak sajak-sajak anak muda yang tidak dapat masuk karena kurangnya persyaratan dalam menulis sajak itu sendiri ditambah lagi mereka harus bersaing dengan penyair-penyair yang sudah memiliki nama besar yang tentu saja penyair yang sudah terkenal itu memiliki kesempatan yang jauh lebih besar untuk menampilkan karya-karyanya. Karena merasa mendapatkan “penindasan” dan ketidakadilan inilah yang mendorong munculnya sajak-sajak popular ini.

 Dasar Pandangan Munculnya Puisi Mbeling

Penyair muda menganggap puisi dan kepenyairan pada waktu itu tidaklah sehat. Ketidaksehatan yang terjadi merupakan akibat dari panempatan puisi pada tempat yang begitu tinggi.
Para penyair muda beranggapan bahwa puisi bukanlah sesuatu yang sangat mulia. Bahkan Remy Sylado (1974) beranggapan bahwa puisi harus diletakkan di telapak kaki. Orang tidak perlu terlalu serius dalam soal puisi. Menulis sajak tidak perlu dipandang sebagai pekerjaan yang sukar. Baik buruk puisi yang dihasilkan merupakan hal yang relatif sifatnya.

Penyair mbeling beranggapan bahwa semua hal dapat disajakkan. Tidak harus hal yang muluk-muluk. Tidak harus berbelit-belit. Dalam puisi tidak ada yang tabu. Yang keramat. Dan dijunjung tinggi. Apa saja dapat disindir. Diejek. Diperolok-olokkan. Yang terpenting dalam bersajak adalah kejujuran, keterusterangan, dan kesertamertaan. Membuat puisi tidak perlu sembunyi-sembunyi, malu-malu, atau enggan mennyatakan pendapat. Sikap terlalu sopan malah dianggap sebuah kemunafikan.

Dengan pandangan-pandangan yang dipakai para penyair mbeling ini maka tidak heran jika puisi-puisi karya mereka (puisi mbeling) berisi kelakar, olok-olok, ejekan, main-main, dan kritik. Pandangan lain dari penyair ini adalah yang terpenting dari karya mereka adalah dapat menyenangkan pembaca, minimal dapat membuat pembaca tertawa walaupun mungkin karya mereka cepat dilupakan, tidak tahan lama, dan tidak abadi.

 Karya-Karya Puisi Mbeling

HORAS I TO, ISE DO MARGAMU
beta patirajasinga
rajasingan singaraja
rajaraja segala raja
jesus kristus raja diraja
raja garong raja koruptor
raja pop singer raja segala
rajagukguk nama marga batak!



WAKTU DOA ULANG TAHUN FRYA IMAM BONJOL
terima kasih Tuhan atas hidangan ini
berhubung botty tiba-tiba kentut
terpaksa
amin kami ganti dengan
jancuk


Ejekan

INDONESIA I
Dari Solo Balapan
Lokomotip berbunyi
Preeeeeeee
Bus bus bus
Orang Jawa
makan tempe
gembus.

INDONESIA II
Kondom bukan moncong
Odol bukan pete
Orang Sunda makan oncom
Orang Madura jual sate.

INDONESIA III
Katak bukan bedak
Jalang tukang borong
Batak banyak gertak
Batang banyak omong
(Aktuil, No.110. Des. 72)



Ejekan kepada penyair yang lebih tua

BURUNG KONDOR DAN MASTODON
selamat malam tuan rendra
oh, tuan laki-laki bukan?
burung
tuan
kondor, kedodor.
(Aktuil, No. 136, 1974)



Ejekan kepada calon penyair yang bergelandangan di sepanjang Malioboro

SAMBIL KEDAP KEDIP MAKAN GUDEG YOGYA
Haiya !
seorang Enghiong belajar bikin puisi
menggelandang di Malioboro biar dibilang
seniman
badannya jadi ceking sebab kelaparan
tapi ia masih bisa tepuk dada
biarpun berantam sudah tak bisa
makannya cuma mimpi biar dibilang pilosop
serius
bikin puisi dari tai kucing sambil mengeong
ampas Sartre, Heidegger dan Bergson
disangka gudeg
dimakan lahap sambil kedap kedip.
eeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeek!
Hatsyiiiiiiiiiiiii!
(Aktuil, No. 146, Juni 74)



Puisi mbeling dengan “seks” sebagai bahan atau sex oriented

BELAJAR MENGHARGAI HAK AZAZI KAWAN
Jika
laki mahasiswa
ya perempuan mahasiswi

jika
laki saudara
ya perempuan saudari

jika
laki putra
ya perempuan putri

jika
laki kawan
ya perempuan kawin

jika
kawan kawin
ya jangan diintip
(Aktuil,?)



MENCAKAR DADA MEREMAS BUKIT
sambil cengar cengir Bu Pun Su mengajar silat
pada Ang Niocu murid perempuannya
lamanya sekian bulan
sesudah mahir Ang Niocu ujian
ia menggeletak kena pukulan ciamik suhunya
dadanya jadi bengkak perutnya jadi kembung
itulah ajaran Lonciapwe budiman.
(Aktuil, No. 146, Juni 74)




KESETIAKAWANAN ASIA-AFRIKA
Mei Hwa perawan 16 tahun
Farouk perjaka 16 tahun
Mei Hwa masuk kamar jam 24.00
Farouk masuk kamar jam 24.00
Mei Hwa buka blouse
Farouk buka hemd
Mei Hwa buka rok
Farouk buka celana
Mei Hwa buka BH
Farouk buka singlet
Mei Hwa buka celana dalam
Farouk buka celana dalam
Mei Hwa telanjang bulat
Farouk telanjang bulat
Mei Hwa pakai daster
Farouk pakai daster
Mei Hwa naik ranjang
Farouk naik ranjang
Lantas mereka tidurlah
Mei Hwa di Taipeh
Farouk di Kairo
(Aktuil, No. 107, 1972)




SEMINAR TENTANG GIZI
Profesor Selabintana mengajukan question
di depan mahasiswa-mahasiswinya.

“Apakah beda tahu dan tempe?”
seorang mahasiswi dari Banyumas sekonyong-konyong
mengangkat ibu jari dan ngomong:
“profesor, kalau tahu dibalik tidak gosong, tapi kalau
tempe dibalik yang nampak bokong!”
seminar tentang gizi berubah menjadi adegan
sex.
(Top, No. 42, 1976)




SAKIT TAPI RINDU
Bukan hanya sekedar melepas gaunku ohh
sayang ………………
Bukan hanya sekedar memeluk diriku ini
sayang ………………
Sakit badanku kau buat begitu …………
Kau datang dan pergi sesuka hatimu ohh
nafsunya engkau, ganasnya engkau, padaku
kau datang dan pergi sesuka hatimu ohh
perihnya anu, sakitnya anu, karnamu
perihnya anu ini tapi aku mauuuu………
sakitnya anu ini namun aku rinduuuu…………..
(Stop, No. 470, 24 Nopember 78)


Dari beberapa contoh puisi mbeling yang termuat dalam beberapa majalah di tahun-tahun 70-an ini dapat kita lihat bagaimana puisi-puisi jenis ini ditulis dengan bebas tanpa batasan apapun, baik dalam segi penulisan maupun isi. Dalam hal isi kritik-kritik, sindiran, olok-olok, dan ejekan pun dilakukan dengan sangat terbuka.
Kelakar dan lelucon dalam puisi mbeling banyak yang menyangkut permasalahan seks atau sex oriented. Hal itu karena memang dalam kehidupan sehari-hari masyarakat kita, permasalahan sex paling banyak digunakan sebagai bahan kelakar atau lelucon. Dalam menulis puisi dengan tema seks, para penyair mbeling ini pun terkadang keterlaluan kevulgarannya.

Demikian artikel info tentang : , semoga bermanfaat bagi kita semua.

Posting Komentar

Idroes Bin Haroen mengatakan... 29 November 2011 22.07

keren.remi silado memang rajanya kocak.saya setuju kalau puisi tidak usah diseriusi.yang ada bikin panieng ambo....salam dari banda aceh

Saefu Zaman mengatakan... 30 November 2011 17.00

salam,,,,

 
Top