Kini semuanya telah usai. Semua tinggal kenangan. Tak ada yangt berarti selain duka dan air mata ataupun tawa bahagia. yah….itulah kenangan……..
Aku bergumam dalam keheningan malam, menyesali semuanya yang telah terjadi.
***
Beberapa saat lalu……….
Segelas teh dingin dan setangkup roti kunikmati dengan malas bersama temanku. Aku lebih serius saat aku mendengarkan cerita temanku tentang perjalanan ke puncak gunung beberapa waktu lalu. Temanku itu bernama Rizki. Rizki adalah anak pecinta alam dan dia selalu bercerita tentang pengalaman-pengalamanya saat mendaki gunung atau sekadar camping. Saat Rizki bercerita tentang pendakianya ke gunung, ia menceritakan tentang keindahan gunung dipagi hari, dengan embun-embun pagi dan dinginya udara gunung pagi ditambah kecantikan bunga-bunga gunung. Ia bercerita indahnya bunga gunung yang salah satunya bunga yang mengingatkanku tentang seorang sahabat yang telah menjadi kenangan. Kenangan untuk selama-lamanya. Eidelweis. Bunga kenangan. Eidelweis yang merupakan tumbuhan gunung.perdu. berbatang ramping, berbulu daunya. Bunga putih kekuningan, berbintik, dan menampilkan suatu keanggunan. Menjadi kenangan nan menyedihkan.

“ Malam teman…..sedang apa kau sekarang? “ tanya putri malam itu lewat sms-nya.
Malam itu aku sedang mengerjakan tugas yang harus kukumpulkan esok paginya. Aku sangat cape. Akupun sedang malas dengan berbagai pesoalan yang kuhadapi.
“ Aku lagi buat tugas. Banyak banget “. Jawabku singkat.
Aku melanjutkan kembali pekerjaanku yang masih banyak itu. Tiba-tiba kudengar Hp-ku berbunyi lagi.
“Kalau aku mau Tanya sesuatu boleh nggak?” begitu bunyi sms dari putri lagi.
“Maaf ya, aku gi males denger cerita orang. Aku lagi sibuk dan capek”.
Begitu ku jawab smsnya.
“ ya maaf kalo aku dah ganggu , tapi aku cuma pengen jadi temen baikmu, temen yang bisa kujadikan sebagai tempat ku bersandar dan yang bisa kujadikan sahabat”.
Aku tidak terlalu menggubris perkataanya, sebenarnya hatiku pun ingin menjadi sahabanya. Tapi memang aku bodoh, aku Cuma menjawab singkat
“ya………”
Jawaban yang singkat yang mungkin membuatnya tersinggung. Membuatnya merasa tak kuperhatikan perkataanya. Setelah itu tak lagi dia membalasnya. Yah mungkin dia benar-benar tersinggung dengan jawabanku tadi.

Pagi yang cerah…..
Sang mentaripun menampakan sinarnya dengan bangga, menghangatkan tubuhku yang masih duduk malas dikursi teras rumahku. Hanya segelas susu yang menemaniku pagi itu, kutengguk susu hangatku sambil menunggu hari agak siang. Sambil kutatap embun embun pagi berjatuhan dari daun daun bunga depan rumah.
“ Ah hari libur, mau apa…….sepi di rumah……”. Begitu gumamku….

Tiba-tiba teringat dalam lamunanku tentang sms putri semalam. Kira-kira sedang apa ya putri, begitu lamunanku. Aku sendiri pun kadang merasa bingung dengan perasaanku sendiri. Putri yang selalu bertengkar, lebih tepatnya selalu saling mengejek ketika bertemu, sangat sering masuk dalam lamunanku. Aku selalu kangen sama dia jika sehari saja tak bertemu,walaupun jika bertemu ujung-ujungnya selalu saling ejek. Yah mungkin sekadar kangen biasa…itulah egoku selama ini.

Lamunanku terpecah oleh suara hand phoneku. Kubuka hp-ku ternyata dari putri,
“Met pagi……..dah bangun belum? Dah siang nih”.
Seperti biasa walaupun kami sering saling ejek, kita selalu saling perhatian walaupun Cuma sekadar mengucap salam.
Entah mengapa pagi itu aku tidak membalas sms dari dia. Aku terhanyut lagi dalam lamunanku. Menunggu siang….

Siang itu aku bosan sekali di rumah. Tak ada teman, tak ada kerjaan. Kuputuskan aku akan pergi ke rumah teman. Tapi aku bingung mau pergi kerumah siapa? Teringat olehku satu nama. Putri. Kuputuskan untuk pergi ke rumah putri siang itu.
Kuambil hp dan kutelepon putri tetapi ternyata yang menerima seorang cowo yang ternyata adalah kakak putri. Dia bilang kalau putri sedang pergi kerumah temanya dan hp-nya tertinggal.

Aku tertidur di kursi teras karena bosan tak ada teman. Sampai aku terbangun oleh suara hp-ku. Ternyata putri menelepon. Dia bilang kalau dia habis pergi ke rumah teman. Dia juga bilang kalau tadi dia di ajak teman-temanya untuk naik gunung Sindoro besok pagi. Memang putri adalah cewe yang punya hobi naik gunung. Dia tergolong cewe yang kuat fisikinya bahkan lebih kuat dariku dalam hal bertualang. Putri memang bukan gadis biasa, dia mempunyai nilai lebih di mataku dibanding cewe-cewe lain yang sukanya cuma maen dan terkesan manja. Dia begitu mandiri. Diapun begitu kuat pendirianya. Walaupun terkesan agak tomboy, wajah cantik dan manis tetap menghiasi wajahnya. Bahkan tak sedikit cowo yang suka sama dia tapi dengan sifat cueknya itu dia tak menanggapi mereka semua.
“Apah kamu mau pergi naik gunung? Mendingan jangan pergi put!! Ini kan musim ujan. Jalanya licin lho….”
“kamu kuatir ya……” jawabnya sambil tertawa.
“ Enggak…” jawabku.
“Terus kenapa? pasti kamu kuatir kalo aku disana ketemu cowo cakep terus aku suka ma dia kan?”
Jawabnya sambil bercanda.
“heh dasar kamu emang enggak pernah serius kalo diperhatikan. Terserahlah, kamu mau pergi atau tidak”. Jawabku kesal sembari menutup telepon.

Malam hari aku merenung dalam kamar, aku tak tahu apa yang aku rasa. Malam semakin larut, detak jarum jam semakin mengusik. Berisik jangkrik dan dingin malam yang semakin menusuk kian menambah hati yang gundah. Aku tak tahu mengapa malam ini hatiku begitu gundah, perasaan tak tentu dan jiwa melayang entah kemana. Malam ini kurasakan kekhawatiran tanpa sebab.

Pagi hari aku bangun, seperti biasa aku hanya duduk malas diteras. Seperti biasa pula aku hanya menunggu siang libur dengan bersantai. “ sedang apa ya putri sekarang? Sudah dua hari dia pergi naik gunung. Pasti dia sudah sampai puncak siang nanti. Ah pasti indah disana. Sekalian dia naik gunung aku mau minta dibawain kenang-kenangan ah. Kira-kira apa ya? Pikirku dalam lamunan…EDELWEIS….ya benar edelweis, bunga yang hanya ada di puncak gunung. Kucoba menghubungi putri lewat telepon genggamnya tetapi ternyata yang mengangkat adalah kakaknya. Kakaknya bilang putri lupa tidak membawa hp waktu berangkat naik gunung.
“enggak apa apalah walaupun enggak dapat eidelweis yang penting Putri bisa pulang dengan selamat” pikirku dalam angan.

Sudah lima hari yang lalu Putri pergi ke gunung dan hari ini adalah waktunya dia pulang ke rumah.Aku menelepon ke rumah putri, sekadar untuk menanya kabar dan ngobrol-ngobrol tetapi yang kudengsar hanyalah isak tangis seorang wanita ketika kutanya tentang putri. Aku tak tahu kenapa dia menangis, ketika ku tanya lagi isak tangisnya malah semakin menjadi dan kemudian telepon di tutup tanpa satu katapun. Aku semakin bingung dan bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi di rumah putri. Kucoba menghubungi lagi rumah putri,tapi hasilnya tetap nihil. Tak ada yang mengangkat teleponku. Aku semakin bingung. Hanya tebakan tebakan penuh kekhawatiran yang kulakukan. Kucoba tuk lupakan peristiwa itu, kucoba berfikir positif saja.
Walaupun itu sama sekali tak mengurangi kerisauan dalam hatiku.

Malam telah menjemput sore, perasaanku semakin tidak menentu. Masih terngiang di telingaku isak wanita tadi pagi. Kumelangkah kedepan rumah, kubawa sejuta tanya yang tiada jawabnya. Akupun semakin bingung,mengapa putri tak memberi kabar padaku padahal hari ini seharusnya dia sudah pulang ke rumah. Biasanya dia selalu memberi kabar kalau dia pulang dari manapun.
Aku tak sanggup lagi menahan rasa penasaranku. Kutelepon lagi rumah putri, karena memang hp putri sudah tidak aktif dari tadi siang.
“ Assalamualaikum…..”
Tak ada jawaban, tapi kudengar lirih suara isak tangis perempuan lagi. Aku semakin penasaran, lalu kutanya lagi
“Maaf Ibu, bisa bicara dengan Putri?
Aku tak tahu kenapa suara isak tangis itu semakin mengeras, bahkan ditambah dengan rintih memilukan dari wanita tersebut. aku semakin bingung…..tiba-tiba suara orang tersebut berubah
“Maaf ini siapa? ada apa?
Terdengar olehku suara laki-laki dengan nada pendek dan putus-putus berucap padaku.
“Ini saya,temanya putri. Maaf Pak, putrinya ada enggak?
Beberapa saat tak terdengar olehku jawaban dari laki-laki tersebut. Kuulangi lagi pertanyaanku tadi tapi akupun tak kunjung mendengar suara laki-laki itu. Aku berkata lagi lebih keras
“Pak………”
Terdengar olehku suara kaget dari laki-laki itu, dia mendesah dengan suara berat seperti malas untuk berkata lagi. Akhirnya dengan terbata-bata lelaki itu menjawab pertanyaanku tadi.
“Putri pergi…”
Aku semakin penasaran dengan jawaban laki laki itu.
“Pergi kemana Pak?....” sama siapa?” Tanyaku singkat.
“Sendiri dan takan kembali…….” Jawabnya.
Maksud bapak?.......” tanyaku….
“Putri meninggal……..”

Aku tak dapat lagi mengartikan kata-kata laki laki itu, pikiranku buntu. Melayang. Aku masih tak percaya dengan apa yang kudengar.
“Apa pak? Putri meninggal? Kenapa pak? “ tanyaku tak sabar
Kini laki-laki itu mulai mengisak, tangisnya begitu berat. Terghambar seorang lelaki tegar yang tak sanggup lagi menahan kepedihan di hati, dalam isaknya ia berucap lirih “ Ia terjatuh ke dalam jurang”
Tanpa sadar aku sudah duduk tersungkur dilantai, air mataku berlinang tak terbendung. Seluruh tubuhku lemas.Lunglai. Jiwaku hancur. ….

Sahabatku hanya penyesalan yang kini kurasakan. Aku tak percaya kalau begitu cepat kau pergi. Masih teringat olehku ketika kau berpamitan padaku, waktu itu aku marah padamu. Aku tak percaya persahabatan kita berakhir dengan derita. Sahabat aku takkan pernah melupakan persahabatan kita, walaupun aku mempunyai beratus sahabat lain yang lebih baik darimu. Biarlah kusimpan kenangan kita bersama dalam sudut hati ini, biarlah kau menjadi edelweis-ku dalam gunung persahabatan kita.


dari sahabatku....
Demikian artikel info tentang : , semoga bermanfaat bagi kita semua.

Posting Komentar

ibnuyunus mengatakan... 12 Desember 2011 01.55

saya suka dengan artikel ini.......karena saya juga mengalami sama seperti ini....:'( saya boelh copy paste ga.....?

 
Top