EJAAN
Ejaan dapat didefinisikan sebagai penggambaran bunyi bahasa dengan kaidah tulis-menulis yang distandardisasikan, yang lazimnya memiliki 3 aspek, yani aspek fonologis yang menyangkut penggambaran fonem dengan huruf dan penyusunan abjad, aspek miorfologis yang menyangkut penggambaran satuan-satuan morfemis, aspek sintaksis yang menyangkut penanda ujaran tanda baca (kridalaksana 1982).
Spelling atau ejaan lebih mudah dipahami sebagai kaidah-kaidah cara menggambarkan bunyi-bunyi seperti kata, kalimat dll dalam bentuk tulisan (huruf) serta penggunaan tanda-tanda baca.
Ejaan secara umum memiliki 2 sistem yaitu sistem fonematogramatis dan idiogramatis. Fonematogramatis merupakan sistem ejaan yang mempersyaratkan adanya bunyi bahasa tertentu yang harus dilambangkan dengan huruf tertentu pula. Sedangkan sistem ejaan idiogramatis yaitu ejaan yang mencerminkan pelambangan kata.
Ejaan fonematografis menghendaki satu fonem harus dilambangkan dengan satu huruf. Misalnya [a] dilambangkan dengan “a”.  namun demikian sistem ejaan ini masih memiliki kekurangsempurnaan seperti yang terjadi pada ejaan bahasa Indonesia yang mana terjadi sebuah fonem dilambangkan dengan lebih dari satu tanda lambang huruf.  Contoh terdapat pada fonem [n] yang dilambangkan dengan /ng/ dan /ny/.
Ejaan idiogramtis yang menerapkan tiap lambang mencerminkan kata tertentu terdapat pada ejaan tionghoa. Ejaan ini jarang dipakai dalam bahasa-bahasa yang ada.
Ejaan fonematografis yang lebih dianggap ideal sebagai ejaan pada awalnya berasal  dari bahasa semit yang kemudian diolah oleh bangsa Yunani menjadi abjad latin. Aksara latin di Indonesia mulai dikenal sejak bangsa barat mulai menyelidiki bahasa Melayu.

JENIS EJAAN
Berdasarkan jenisnya ejaan dibagi atas ejaan fonetis dan fonologis. Ejaan fonetis berusaha menyatakan bunyi bahasa dan segala nuansanya dengan huruf-huruf setelah mengukur dan mencatatnya dengan alat yang canggih yang disebut pektograf. Gambar yang keluar atau yang dapat dilihat berupa frekuensi, intensities, dan durasinya disebut spektogram. Fonetis mempelajari bunyi-bunyi ujaran atau fona-fona. Karena bahasa yang dikeluarkan manusia sangat banyak maka ejaan ini menjadi sangat kompleks. Untuk dapat mengambarkan setiap fona yang keluar dari bahasa Manusia dalam ilmu ejaan fonetis diperlukan beberapa tanda berupa garis, titik dua, lingkaran atau yang biasa disebut dengan tanda diakritis. Sebagai contoh dapat kita lihat pada kamus bahasa Inggris dalam menuliskan cara fonem-fonem dibaca. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, ejaan ini kurang dikenal karena kita tidak memiliki kamus atau pedoman pellafalan atau kamus lafal. Sebagai contoh, bisa sebuah kata dalam bahasa Indonesia diucapkan berbeda-beda tergantung asal usul si pengucap dan itu tidaklah salah atau mengubah arti.
Ejaan fonologis mempelajari bagaimanakah penyadaran bunyi bunyi bahasa serta kombinasinya, apakah bunyi bunyi tertentu gterikat oleh suatu tempat pada suku kata misalnya bunyi hamzah yang dalam bahasa Indonesia yang tidak kita temukan pada awal kata tetapi ada pada akhir kata. Hal tersebut berbeda dengan yang berlaku pada bahasa Gorontalo yang setiap kata yang berawal huruf vocal pasti diawali hamzah. Missal kata ?ito (kita). Fonologi melakukan studi secara ilmiah tentang bunyi bahasa yang membedakan makna.
Ejaan fonologis yang hanya membatasi pada bunyi-bunyi yang membedakan makna memiliki keuntungan tersendiri karena lebih sederhana dibandingkan ejaan fonetis yang berusaha menggambarkan tiap fonem secara terperinci.
Syarat penyusuna ejaan
Penyusuna ejaan bukanlah hal yang dapat dilakukan secara sembarangan. Setidaknya ada 3 hal yang menjadi pertimbangan penyusunan ejaan, yaitu:
  1. Pertimbangan ilmiah yang menghendaki agar pelambangan itu mencerminkan penelaahan secaramendalam mengenai kenyataan linguistic maupun social pemakai bahasa yang bersangkutan.
  2. Pertimbangan teknis yang menghendaki agar setiap fonem dilambangkan dengan satu huruf.
  3. Pertimbangan praktis yang menghendaki agar pelambangan secara teknis di atas disesuaikan denga keperluan praktis, misalnya keadaan percetakan dan mesin tulis.
Dengan pertimbangan ilmiah penyusun ejaan harus melakukan fonemisasi terlebih dahulu terhadap bahasa tersebut membedakan bunyi mana yang membedakan makna, dll serta memperhatikan kebiasaan masyarakat atas dasar pertimbangan kebiasaan atau adat. Pertimbanagn teknis untuk dapat menbuat ejaan yang tiap fonem diwakili dengan satu lambang tetapi juga dengan pertimbangan praktis yaitu kemudahan dalam menulis jika dilakukan dengan mesin ketik. Sebagai contoh fonem [ŋ] tetap dilambangkan dengan 2 lambang yaitu /ng/. Hal itu karena pertimbangan praktis yaitu alat tulis yang tidak memfasilitasi/ sulit.


Demikian artikel info tentang : , semoga bermanfaat bagi kita semua.

Posting Komentar

 
Top