Suara Penyair Feminis

Pengantar
      Ideologi gender yang berpihak pada maskulinitas, yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat patriarkis, telah berabad-abad memerangkap kaum perempuan hanya sebagai the second sex (makhluk kelas dua dari sisi gender). Singkatnya, perempuan adalah subordinasi dari superioritas kaum lelaki. Secara kultural pun dikonstruksikan bahwa perempuan lebih rendah daripada lelaki sehingga banyak lahir mitos yang mengajarkan bahwa perempuan harus taat dan setia pada lelaki, sementara pada lelaki tidak ada tuntutan untuk setia pada perempuan. Mitos yang terkenal terkait soal ini adalah mitos Sita: Sita diwajibkan menjalani pati obong untuk membuktikan kesuciannya setelah sekian lama diculik Rahwana. Pati obong hanya berlaku untuk kaum perempuan, dan tidak berlaku untuk kaum lelaki karena lelaki tidak dituntut setia pada perempuan. Mitos Sita tersebut secara langsung dan tidak langsung makin mengukuhkan mitos kejantanan dan dominasi lelaki terhadap perempuan: lelaki yang beristri lebih dari satu dipuja sebagai lelaki jantan dan perkasa.
      Ketimpangan dan ketidaksetaraan gender itu pada akhirnya melahirkan feminisme, yang menuntut adanya kesetaraan gender. Dalam khazanah sastra Indonesia Nh. Dini dan Toeti Herati dapat disebut yang pertama-tama melahirkan karya-karya yang bercorak feminis. Melalui novelnya Pada Sebuah Kapal, La Barka, dan Namaku Hiroko, Nh. Dini berupaya memperlihatkan bahwa kaum perempuan juga setara dengan laki-laki, terutama dalam kehidupan seksual. Namaku Hiroko lebih unik lagi, karena sekaligus mempertontonkan bagaimana dalam masyarakat Jepang yang patriarkis kaum lelakinya cenderung hanya menganggap perempuan sebagai objek pelampiasan seksual belaka.
      Sekitar 1—2 dasawarsa terakhir ini karya-karya yang bercorak feminis makin bermunculan, antara lain oleh Ayu Utami, Dorothea Rosa Herliany, Oka Rusmini, dan Djenar Mahesa Ayu. Barangkali di antara pembaca karya-karya feminis itu ada yang bertanya-tanya, mengapa seks begitu diumbar dalam karya-karya tersebut, misalnya dalam novel Saman Ayu Utami dan kumpulan cerpen Djenar Mahesa Ayu Jangan Main-Main dengan Kelaminmu. Patut dicatat, kaum feminis pada umumnya beranggapan bahwa seks adalah simbol dominasi lelaki terhadap perempuan. Karena itu, dalam upaya perlawanan atas dominasi dan superioritas kaum lelaki terhadap perempuan, seks dan lembaga perkawinan adalah hal yang paling “diserang” oleh kaum feminis, dalam arti didekonstruksikan, dijungkirbalikkan, dan diparodikan.
      Patut dicatat, dalam khazanah sastra Indonesia dapat dikatakan hanya ada tiga penyair yang secara konsisten menyuarakan feminisme dalam sajak-sajak mereka, yakni Toeti Herati (Mimpi dan Pretensi), Dorothea Rosa Herliany (Nikah Ilalang, Kill The Radio/Sebuah Radio Kumatikan, Nyanyian Gaduh, Para Pembunuh Waktu), dan Oka Rusmini (Patiwangi, Pandora).
     
Sajak Dorothea Rosa Herliany: Suara Penyair Feminis
      Berikut ini akan ditampilkan sajak Dorothea Rosa Herliany, "Buku Harian Perkawinan", untuk memperlihatkan bagaimana dalam sajak feminis seks dan lembaga perkawinan mengalami dekonstruksi dan parodi. Dari segi kebahasaan, sejak larik pertama bait pertama sajak Dorothea Rosa Herliany "Buku Harian Perkawinan" ini telah menunjukkan dekonstruksi: ketika menikahimu, tak kusebut keinginan setia. Aku lirik dalam sajak ini--berdasarkan konteks tekstualnya dan pasangan oposisionalnya (berlarilah sejauh langkah kejantananmu, lelaki! [larik pertama bait kedua])--berjenis kelamin perempuan. Pada umumnya dan pada lazimnya, dalam suatu pernikahan yang melakukan aktivitas melamar dan menikahi adalah laki-laki (konsep ini mengimplikasikan ideologi gender: melamar dan menikahi untuk "memiliki"). Akan tetapi, pada larik pertama bait pertama sajak "Buku Harian Perkawinan" ini yang melakukan aktivitas menikahi adalah perempuan. Dekonstruksi berikutnya (pada larik yang sama) adalah tak kusebut keinginan setia, sesuatu yang menyimpangi kelaziman pernikahan. Larik kedua, engkau bahkan telah menjadi budak penurutku, mempertontonkan parodi sekaligus dekonstruksi. Jika biasanya perempuan diposisikan sebagai subordinasi laki-laki, pada larik ini laki-laki diposisikan sebagai subordinasi perempuan. Larik-larik selanjutnya dalam bait pertama ini (dunia yang kumiliki kubangun di atas bukit batu/dan padang ilalang. kau bajak jadi ladang subur/yang mesti kupanen dalam setiap dengus nafsuku./kupelihara ribuan hewan liar, kujadikan prajurit/yang akan menjaga dan memburumu./dan kutanam bambu untuk gagang tombak dan sembilu.) menampilkan imaji-imaji yang mendekonstruksi suasana harmonis yang umumnya terdapat dalam suatu perkawinan, terutama pada masa awal perkawinan.
      Larik pertama dan kedua bait kedua mengungkapkan ejekan pada laki-laki: berlarilah sejauh langkah kejantananmu, lelaki!/bersembunyilah di antara ketiak ibumu, Larik pertama bait kedua ini sekaligus merupakan ejekan terhadap ideologi gender, yang karena telah terinternalisasikan selama berabad-abad akhirnya menggiring kaum ibu pada umumnya (yang dari segi gender merupakan perempuan) untuk lebih mengistimewakan anak laki-laki, suatu sikap yang bias gender karena telah terkontaminasi oleh ideologi gender.
      Persona aku dan kau serta -ku dan -mu dalam ... ajarilah aku membangun rumah dan/dindingtakberpintu. memenjara penyerahanku/yang kaubaca dengan bahasamu. (tiga larik terakhir bait kedua) merupakan pasangan oposisional yang mengacu pada perempuan--laki-laki. Terdapat elipsis (pelesapan) pada larik kelima bait kedua ini sehingga larik-larik yang dikemukakan di atas selengkapnya dapat dibaca sebagai berikut: ... ajarilah aku membangun rumah dan/dindingtakberpintu. (karena selama ini kau) memenjara penyerahanku/yang kaubaca dengan bahasamu. Dalam elipsis itu sesungguhnya tersimpan penanda kala/waktu, yaitu 'selama ini'. Jadi, karena selama ini laki-laki hanya menerima (dan kemudian memenjara) penyerahan dan kesetiaan perempuan dalam perspektif ideologi gender sebagai ketertaklukan perempuan, ketika menikahimu, tak kusebut keinginan setia. (larik pertama bait pertama), dan ... aku menikahimu tidak untuk setia. (larik pertama bait ketiga).
      Hewanhewan liar pada tiga larik terakhir bait ketiga (aku panglima untuk sepasukan hewanhewan liarku/--yang selalu bergairah memandangmu/di atas meja makan.) dapat ditafsirkan sebagai 'libido seksual', sementara panglima adalah 'pemegang kendali, yang memegang kendali'. Jadi, jika selama ini dalam perspektif ideologi gender laki-laki merupakan pemegang kendali dalam hampir setiap aktivitas seksual dan perempuan semata-mata hanya menjadi objek pelampiasan nafsu dan gairah seksual laki-laki, perspektif yang demikian itu dipatahkan dan didekonstruksi dengan pengalihan pemegang kendali kepada perempuan: aku panglima untuk sepasukan hewanhewan liarku/--yang selalu bergairah memandangmu/di atas meja makan.//sekarang biarlah kudekap engkau,/sebelum kulunaskan puncak laparku! Terakhir, puncak laparku pada larik terakhir bait terakhir dapat ditafsirkan sebagai 'puncak gairah libidoku' atau 'puncak syahwatku'.
      Sajak Dorothea Rosa Herliany "Buku Harian Perkawinan" ini mengungkapkan suatu dekonstruksi dan parodi terhadap ideologi gender. Judul sajak Dorothea Rosa Herliany itu sendiri, "Buku Harian Perkawinan", sesungguhnya telah mengalami dekonstruksi dan parodi melalui larik-larik sajak ini. Jika secara konvensional 'buku harian perkawinan' menghadirkan konotasi 'catatan yang indah-indah seputar perkawinan', melalui larik-larik sajak "Buku Harian Perkawinan" ini konotasi tersebut didekonstruksikan dan diparodikan.
      Dapat dikatakan, “semangat” sajak Dorothea Rosa Herliany "Buku Harian Perkawinan" ini adalah 'ketika menikahimu, tak kusebut keinginan setia.'  “Semangat” sajak ini terutama lahir dari oposisi antara ideologi gender dan feminisme. Karena itu, hal ini dapat dikatakan merupakan suatu perlawanan khas feminis terhadap lembaga perkawinan sebagai produk ideologi gender, yang memosisikan seorang istri (perempuan) sebagai subordinasi suami (laki-laki). “Semangat” sajak "Buku Harian Perkawinan" ini (larik pertama bait pertama) terutama berkoherensi dan berekuivalensi dengan tiga larik terakhir bait kedua, ... ajarilah aku membangun rumah dan/dindingtakberpintu. memenjara penyerahanku/yang kaubaca dengan bahasamu., bahwa selama ini seorang suami (laki-laki) menafsirkan kesetiaan dan penyerahan seorang istri (perempuan) dalam perspektif ideologi gender sehingga ketika menikahimu, tak kusebut keinginan setia. dan ... aku menikahimu tidak untuk setia.
      Dari “semangat” sajak Dorothea Rosa Herliany "Buku Harian Perkawinan" yang dikemukakan di atas, dapat dikatakan “roh” sajak ini adalah dekonstruksi lembaga perkawinan. “Roh” ini telah mewarnai keseluruhan sajak Dorothea Rosa Herliany ini, sebagaimana diperlihatkan oleh oposisi utama dalam sajak ini: ideologi gender--feminisme. Bahkan, penjudulan sajak Dorothea Rosa Herliany ini--"Buku Harian Perkawinan"--telah mengimplikasikan dekonstruksi sekaligus parodi terhadap lembaga perkawinan, yang oleh kaum feminis dipandang merupakan produk ideologi gender yang hanya mempertontonkan supremasi dan dominasi laki-laki terhadap perempuan.
      Dapat dikatakan, sajak Dorothea Rosa Herliany "Buku Harian Perkawinan" telah mendekonstruksikan dan memparodikan ketimpangan dan bias gender. Jika dalam ideologi gender laki-laki mendominasi dan hanya memandang perempuan sebagai objek seksual, dalam sajak "Buku Harian Perkawinan" ini laki-laki ditempatkan sebagai objek syahwat perempuan (aku panglima untuk sepasukan hewanhewan liarku/--yang selalu bergairah memandangmu/di atas meja makan.//sekarang biarlah kudekap engkau,/sebelum kulunaskan puncak laparku!) dan ketika menikahimu, tak kusebut keinginan setia. Jadi, perempuan (aku lirik) dalam sajak "Buku Harian Perkawinan" ini memberontaki kungkungan ideologi gender dalam perkawinan, dengan melepaskan diri dari tuntutan kesetiaan (yang hanya "menguntungkan" laki-laki) sekaligus melepaskan diri dari posisinya sebagai sekadar subordinasi laki-laki dengan mengatakan bahwa ia menikahi, bukan dinikahi (karena 'dinikahi laki-laki' menunjukkan dominasi dan supremasi laki-laki atas perempuan). Dengan demikian, konvensi yang lazim terdapat dalam perkawinan--yang bias gender--mendapatkan perlawanan dari sajak Dorothea Rosa Herliany ini melalui dekonstruksi dan parodi. Perempuan (aku lirik) dalam sajak "Buku Harian Perkawinan" ini tidak lagi sebagai the second sex sebagaimana digariskan dalam ideologi gender, tetapi telah menjelma sebagai the first sex.

Penutup
      Sajak Dorothea Rosa Herliany "Buku Harian Perkawinan" telah melakukan perlawanan feminis terhadap ideologi gender yang mensubordinasikan perempuan. Perlawanan feminis terhadap ideologi gender itu dalam sajak "Buku Harian Perkawinan" diwujudkan dengan melakukan dekonstruksi dan parodi terhadap lembaga perkawinan, yang di mata sebagian kaum feminis tercitra sebagai sarana sekaligus simbol ideologi gender. Sajak "Buku Harian Perkawinan" itu mendekonstruksikan dan memparodikan pula kehidupan seksual yang menyertai suatu perkawinan. Dalam sajak Dorothea Rosa Herliany ini, perempuan sebagai tokoh lirik sajak itu tidak lagi tampil sebagai sekadar the second sex sebagai perwujudan ideologi gender, tetapi telah mengaktualisasikan diri sebagai the first sex sebagai realisasi feminisme.

DAFTAR PUSTAKA

Djajanagara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra Feminis:
Sebuah Pengantar. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.

Herliany, Dorothea Rosa. 2002. "Buku Harian
Perkawinan", Horison XXXV/4, April.Jakarta: Yayasan
Indonesia.

Said, Edward W. 1986. Literature and Society.
Baltimore and London: The Johns Hopkins University Press.

Stimpson, Catharine R. 1986. "Ad/d Feminam: Women,
Literature, and Society" dalam Said,
Edward W. Literature and Society. Baltimore and London: The Johns
Hopkins University Press.

Diambil dari http://pusatbahasa.kemdiknas.go.id oleh Suyono Suyatno.

Demikian artikel info tentang : , semoga bermanfaat bagi kita semua.

Posting Komentar

saku mengatakan... 13 Maret 2012 17.38

ironis kl melihat prinsip feminisme....

 
Top