Wakil Mendiknas, Fasil Jalal, mengatan nilai rata-rata Ujian Nasional (UN) Bahasa Indonesia (BI) tingkat SMP dan SMA beberapa tahun belakangan menunjukkan keprihatinan. Salah satunya diakibatkan semakin hilangnya budaya membaca di kalangan siswa serta anggapan remeh siswa terhadap pentingnya mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Selain itu, metode pengajaran guru dan jenis evaluasi belajarnya pun ditengarai tidak menunjang penguasaan kompetensi berbahasa secara utuh.

Fasli mengatakan bahwa budaya baca siswa yang rendah itu disebabkan pembiasaan membaca yang kurang baik di sekolah maupun di rumah. Di sisi lain, siswa tetap menganggap Bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari dan menganggapnya tidak perlu dipelajari lebih mendalam.

Ini berbeda dengan mata pelajaran (mapel) Bahasa Inggris, misalnya. Kebiasaan-kebiasaan dan penilaian salah tentang mapel Bahasa Indonesia itulah yang menyebabkan kemampuan berbahasa siswa terbatas.

"Bahasa Indonesia harus dari hati, seperti olahraga. Sekali tidak biasa melakukannya, maka tidak akan bisa," katanya.

Bahasa SMS Merusak Kemurnian Bahasa Indonesia

Deputi Bidang Pengembangan Kepemimpinan Pemuda Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga M Budi Setiawan, narasumber pleno yang membahas Pemantapan Kemampuan Berbahasa Generasi Muda dalam Membangun Citra Bangsa mengatakan kalangan generasi muda telah melanggar sumpahnya, sebagaimana yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda, 80 tahun lalu.

"Dalam sumpahnya menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia, namun dalam keseharian generasi muda menggunakan bahasa yang sulit dimengeri, kecuali oleh komunitas tertentu, seperti bahasa gaul, bahasa prokem, atau bahasa tulis melalui pesan singkat (sms) di telepon seluler, yang bisa dikategorikan sebagai bahasa sms," katanya.

Menurut Budi, munculnya bahasa gaul, bahasa prokem atau bahasa sms, tak perlu dikhawatirkan, karena hanya digunakan untuk komunikasi pada komunitas tertentu. Suatu saat akan hilang. Namun demikian, tanggung jawab kita bagaimana memantapkan dan memaksimalkan peran bahasa Indonesia dalam sistem pendidikan di Indonesia, untuk menghasilkan lulusan yang unggul dan berdaya saing tinggi dan mandiri.

***

Sumber : kompas.com dan republika.co.id


Demikian artikel info tentang : , semoga bermanfaat bagi kita semua.

Posting Komentar

 
Top